Latest Updates
Showing posts with label kisah. Show all posts
Showing posts with label kisah. Show all posts

TAASHSHUB / FANATIK

TAASHSHUB / FANATIK

** Perdebatan Imam Asy-Syafi'i dan Imam Sufyan Ats-Tsauriy ** 

" ﻣﻨﺎﻇﺮﺓ ﺑﻴﻦ ﺍﻟﺸﺎﻓﻌﻲ ﻭ ﺳﻔﻴﺎﻥ ﺍﻟﺜﻮﺭﻱ "

ﻗﻴﻞ ﺃن مناظرة ﻭﻗﻌﺖ ﺑﻴﻦ ﺍﻹﻣﺎﻣﻴﻦ ﺍﻟﺠﻠﻴﻠﻴﻦ ﺍﻟﺸﺎﻓﻌﻲ ﻭ ﺳﻔﻴﺎﻥ ﺍﻟﺜﻮﺭﻱ ﻣﻨﺎﻇﺮﺓ ﺣﻮﻝ ﺟﻠﺪ ﺍﻟﻤﻴﺘﺔ ﻭ ﻃﻬﺎﺭﺗﻪ ﺑﺎﻟﺪﺑﻎ ، ﻭ ﻛﺎﻥ ﺍﻟﺸﺎﻓﻌﻲ ﻳﺮﻯ ﺃن جلد ﺍﻟﻤﻴﺘﺔ ﻻ ﻳﻄﻬﺮ ﺃﺑﺪﺍً ﻭ ﻟﻮ ﺑﺎﻟﺪﺑﻎ ، ﻣﺴﺘﺪﻻً ﺑﻜﺘﺎﺏ ﺍﻟﻨﺒﻲ ﺻﻠﻰ ﺍﻟﻠﻪ ﻋﻠﻴﻪ ﻭ ﺳﻠﻢ ﺇﻟﻰ ﺟﻬﻴﻨﺔ :
" ﺇﻧﻲ ﻛﻨﺖ ﺭﺧﺼﺖ ﻟﻜﻢ ﻓﻲ ﺟﻠﻮﺩ ﺍﻟﻤﻴﺘﺔ ، ﻓﺈﺫﺍ ﺟﺎﺀﻛﻢ ﻛﺘﺎﺑﻲ ﻫﺬﺍ ﻓﻼ ﺗﻨﺘﻔﻌﻮﺍ ﻣﻦ ﺍﻟﻤﻴﺘﺔ ﺑﺈﻫﺎﺏ ﻭ ﻻ ﻋﺼﺐ "
.
ﺭﻭﺍﻩ ﺃﺑﻮ ﺩﺍﻭﺩ ﻓﻲ " ﺳﻨﻨﻪ " ( ٤١٢٧ ) ﻭ ﺍﺣﻤﺪ ﻓﻲ " مسنده " ( ٤/ ٣١٠ - ٣١١ ) .
.
ﻭ ﻛﺎﻥ ﺳﻔﻴﺎﻥ ﺍﻟﺜﻮﺭﻱ ﻳﺮﻯ ﺃﻧﻪ ﻳﻄﻬﺮ ﺑﺎﻟﺪﺑﻎ ، ﻣﺴﺘﺪﻻً ﺑﻤﺎ ﺟﺎﺀ ﻋﻦ ﺍﻟﻨﺒﻲ ﺻﻠﻰ ﺍﻟﻠﻪ ﻋﻠﻴﻪ ﻭ ﺳﻠﻢ :
" ﻫﻼ ﺃﻧﺘﻔﻌﺘﻢ ﺑﺠﻠﺪﻫﺎ " .
ﻗﺎﻟﻮﺍ : " ﺇﻧﻬﺎ ﻣﻴﺘﺔ " .
ﻗﺎﻝ : " ﺇﻧﻤﺎ ﺣﺮﻡ ﺃﻛﻠﻬﺎ " .
ﻭ ﻓﻲ ﺭﻭﺍﻳﺔ : " ﺃﻻ ﺃﺧﺬﻭﺍ ﺇﻫﺎﺑﻬﺎ ﻓﺪﺑﻐﻮﻩ ﻓﺎﻧﺘﻔﻌﻮﺍ ﺑﻪ "
.
متفق عليه
.
ﻭ ﻛﺎﻧﺖ ﻧﺘﻴﺠﺔ ﻫﺬﻩ ﺍﻟﻤﻨﺎﻇﺮﺓ ﺃﻥ ﺳﻔﻴﺎﻥ ﺍﻟﺜﻮﺭﻱ ﺭﺟﻊ ﻋﻦ ﻗﻮﻟﻪ ﺇﻟﻰ ﻗﻮﻝ ﺍﻟﺸﺎﻓﻌﻲ : ﻻ ﻳﻄﻬﺮ ﻣﻦ ﺍﻟﻤﻴﺘﺔ ﺷﺊ ، ﺃﻣﺎ ﺍﻟﺸﺎﻓﻌﻲ . . ﻓﻘﺪ ﺭﺟﻊ ﺇﻟﻰ ﻗﻮﻝ ﺳﻔﻴﺎﻥ ﺑﺄﻥ ﺟﻠﺪ ﺍﻟﻤﻴﺘﺔ ﻳﻄﻬﺮ ﺑﺎﻟﺪﺑﻎ ...
.......
ﻓﺎﻧﻈﺮ ﻧﺘﻴﺠﺔ ﺍﻟﻤﻨﺎﻇﺮﺓ ﺃﻥ ﺳﻔﻴﺎﻥ ﺭﺟﻊ ﻋﻦ ﻗﻮﻟﻪ ﺇﻟﻰ ﻗﻮﻝ ﺍﻟﺸﺎﻓﻌﻲ ﻻ ﻳﻄﻬﺮ ﻣﻦ ﺍﻟﻤﻴﺘﺔ ﺷﻲﺀ ، ﺃﻣﺎ ﺍﻟﺸﺎﻓﻌﻲ . . ﻓﻘﺪ ﺭﺟﻊ ﺇﻟﻰ ﻗﻮﻝ ﺳﻔﻴﺎﻥ ﺑﺄﻥ ﺟﻠﺪ ﺍﻟﻤﻴﺘﺔ ﻳﻄﻬﺮ ﺑﺎﻟﺪﺑﻎ ,,,
......
ﻓﺎﻧﻈﺮﻭﺍ ﺇﻟﻰ ﻋﺪﻡ ﺍﻟﺘﻌﺼﺐ ﻟﻠﺮﺃﻱ ، ﻭ ﻛﻴﻒ ﻛﺎﻥ ﺍﻟﻌﻠﻤﺎﺀ ﻳﺘﺒﻌﻮﻥ ﺍﻟﺤﻖ ﻣﺘﻰ ﺗﺒﻴﻦ ﻟﻬﻢ ، ﻭ ﻟﻜﻞ ﻭﺟﻬﺔ ﻧﻈﺮ ﻭ ﻃﻤﺄﻧﻴﻨﺔ ﺑﺎﻟﺪﻟﻴﻞ ..
------------
* PERDEBATAN IMAM ASY-SYAFI'I DAN IMAM SUFYAN ATS-TSAURIY *
--
Dikatakan :
Sesungguhnya perdebatan terjadi antara dua imam yang agung, Imam Asy-Syafi'i dan Imam Sufyan Ats-Tsauriy seputar kulit bangkai dan sucinya kulit bangkai dengan disamak.
.
Awalnya Imam Syafi'i berpendapat bahwa: "sesungguhnya kulit bangkai tidak dapat disucikan selamanya meskipun dengan disamak."
dengan berdasar dalil surat Nabi Muhammad shollallahu alaihi wasallam terhadap Juhainah: "sesungguhnya dulu Aku memberikan rukhshoh (dispensasi/keringanan) bagi kalian semua dalam masalah kulit bangkai, ketika sudah datang suratku ini pada kalian . . maka janganlah kalian mengambil manfaat dari bangkai dengan kulit (disamak/belum) dan tidak pula dengan diikat/dibalut."
.
dan awalnya Imam Sufyan Ats-Tsauri berpendapat bahwa: "kulit bangkai bisa disucikan dengan di samak", berdasar dalil yang datang dari Nabi Muhammad shollallahu alaihi wasallam: "apakah kalian kalian tidak mengambil manfaat dengan kulitnya (bangkai) ?"
para sahabat berkata: "sesungguhnya ini adalah bangkai!"
Nabi bersabda: "Yang diharamkan hanyalah memakannya."
dan di dalam satu riwayat lain: "apakah kalian tidak mengambil kulit bangkai kemudian kalian mengajaknya hingga kalian bisa mengambil manfaat dengannya?"
.
dan HASIL dari perdebatan ini bahwa Imam Sufyan mencabut kembali pendapatnya dan berpindah ke pendapat Imam syafi'i: "tidak dapat disucikan dari bangkai sesuatu apapun."
sedangkan Imam Syafi'i . . maka sungguh telah mencabut pendapatnya dan beralih ke pendapat Imam Sufyan bahwa: "kulit bangkai bisa disucikan dengan disamak."
--
LIHATLAH DAN RENUNGKAN HASIL PERDEBATANNYA bahwa Imam Sufyan mencabut kembali pendapatnya dan berpindah ke pendapat Imam syafi'i: "tidak dapat disucikan dari bangkai sesuatu apapun."
sedangkan Imam Syafi'i . . maka sungguh telah mencabut pendapatnya dan beralih ke pendapat Imam Sufyan bahwa: "kulit bangkai bisa disucikan dengan disamak."
---
LIHATLAH DAN RENUNGKAN tentang tidak adanya kefanatikan pada pendapat, dan lihatlah bagaimana para alim, mereka mengikuti hal yang benar ketika hal itu tampak jelas pada mereka, dan bagi setiap sesuatu itu mempunyai tujuan/arah pandangan dan mantap dengan dalil. 

INDAHNYA PERSAUDARAAN SESAMA MUSLIM

INDAHNYA PERSAUDARAAN SESAMA MUSLIM


Suatu hari, Amirul Mukminin Umar bin Khattab sedang duduk di bawah pohon kurma dekat Masjid Nabawi. Di sekelilingnya, para sahabat sedang asyik mendiskusikan sesuatu.
Tiba-tiba datanglah 3 orang pemuda. Dua pemuda memegangi seorang pemuda lusuh yang diapit oleh mereka.
Ketika sudah berhadapan dengan Umar, kedua pemuda yang ternyata kakak beradik itu berkata :
"Tegakkanlah keadilan untuk kami, wahai Amirul Mukminin!"
"Qishashlah pembunuh ayah kami sebagai had atas kejahatan pemuda ini !".
Umar segera bangkit dan berkata :
"Bertakwalah kepada Allah, benarkah engkau membunuh ayah mereka, wahai anak muda?"
Pemuda lusuh itu menunduk sesal dan berkata :
"Benar, wahai Amirul Mukminin."
"Ceritakanlah kepada kami kejadiannya.", tukas Umar.
Pemuda lusuh itu kemudian memulai ceritanya :
"Aku datang dari pedalaman yang jauh, kaumku memercayakan aku untuk suatu urusan muammalah untuk kuselesaikan di kota ini. Sesampainya aku di kota ini, ku ikat untaku pada sebuah pohon kurma lalu kutinggalkan dia (unta). Begitu kembali, aku sangat terkejut melihat seorang laki-laki tua sedang menyembelih untaku, rupanya untaku terlepas dan merusak kebun yang menjadi milik laki-laki tua itu. Sungguh, aku sangat marah, segera ku cabut pedangku dan kubunuh ia (lelaki tua tadi). Ternyata ia adalah ayah dari kedua pemuda ini."
"Wahai, Amirul Mukminin, kau telah mendengar ceritanya, kami bisa mendatangkan saksi untuk itu.", sambung pemuda yang ayahnya terbunuh.
"Tegakkanlah had Allah atasnya!" timpal yang lain.
Umar tertegun dan bimbang mendengar cerita si pemuda lusuh.
"Sesungguhnya yang kalian tuntut ini pemuda shalih lagi baik budinya. Dia membunuh ayah kalian karena khilaf kemarahan sesaat", ujarnya.
"Izinkan aku, meminta kalian berdua memaafkannya dan akulah yang akan membayarkan diyat (tebusan) atas kematian ayahmu", lanjut Umar.
"Maaf Amirul Mukminin," sergah kedua pemuda masih dengan mata marah menyala,
"Kami sangat menyayangi ayah kami, dan kami tidak akan ridha jika jiwa belum dibalas dengan jiwa".
Umar semakin bimbang, di hatinya telah tumbuh simpati kepada si pemuda lusuh yang dinilainya amanah, jujur, dan bertanggung jawab.
Tiba-tiba si pemuda lusuh berkata :
"Wahai Amirul Mukminin, tegakkanlah hukum Allah, laksanakanlah qishash atasku. Aku ridha dengan ketentuan Allah", ujarnya dengan tegas.
"Namun, izinkan aku menyelesaikan dulu urusan kaumku. Berilah aku tangguh 3 hari. Aku akan kembali untuk diqishash".
"Mana bisa begitu?", ujar kedua pemuda yang ayahnya terbunuh.
"Nak, tak punyakah kau kerabat atau kenalan untuk mengurus urusanmu?", tanya Umar.
"Sayangnya tidak ada, Amirul Mukminin".
"Bagaimana pendapatmu jika aku mati membawa hutang pertanggung jawaban kaumku bersamaku?", pemuda lusuh balik bertanya kepada Umar.
"Baik, aku akan memberimu waktu tiga hari. Tapi harus ada yang mau menjaminmu, agar kamu kembali untuk menepati janji." kata Umar.
"Aku tidak memiliki seorang kerabatpun di sini. Hanya Allah, hanya Allah-lah penjaminku wahai orang-orang beriman", rajuknya.
Tiba-tiba dari belakang kerumunan terdengar suara lantang :
"Jadikan aku penjaminnya, wahai Amirul Mukminin".
Ternyata Salman al-Farisi yang berkata.
"Salman?" hardik Umar marah.
"Kau belum mengenal pemuda ini, Demi Allah, jangan main-main dengan urusan ini".
"Perkenalanku dengannya sama dengan perkenalanmu dengannya, yaa, Umar. Dan aku mempercayainya sebagaimana engkau percaya padanya", jawab Salman tenang.
Akhirnya dengan berat hati, Umar mengizinkan Salman menjadi penjamin si pemuda lusuh. Pemuda itu pun pergi mengurus urusannya.
Hari pertama berakhir tanpa ada tanda-tanda kedatangan si pemuda lusuh. Begitupun hari kedua. Orang-orang mulai bertanya-tanya apakah si pemuda akan kembali. Karena mudah saja jika si pemuda itu menghilang ke negeri yang jauh.
Hari ketiga pun tiba. Orang-orang mulai meragukan kedatangan si pemuda, dan mereka mulai mengkhawatirkan nasib Salman, salah satu sahabat Rasulullah S.A.W. yang paling utama.
Matahari hampir tenggelam, hari mulai berakhir, orang-orang berkumpul untuk menunggu kedatangan si pemuda lusuh. Umar berjalan mondar-mandir menunjukkan kegelisahannya. Kedua pemuda yang menjadi penggugat kecewa karena keingkaran janji si pemuda lusuh.
Akhirnya tiba waktunya penqishashan. Salman dengan tenang dan penuh ketawakkalan berjalan menuju tempat eksekusi. Hadirin mulai terisak, karena menyaksikan orang hebat seperti Salman akan dikorbankan.
Tiba-tiba di kejauhan ada sesosok bayangan berlari terseok-seok, jatuh, bangkit, kembali jatuh, lalu bangkit kembali.
”Itu dia!” teriak Umar.
“Dia datang menepati janjinya!”.
Dengan tubuhnya bersimbah peluh dan nafas tersengal-sengal, si pemuda itu ambruk di pangkuan Umar.
”Hh..hh.. maafkan.. maafkan.. aku, wahai Amirul Mukminin..” ujarnya dengan susah payah,
“Tak kukira... urusan kaumku... menyita... banyak... waktu...”.
”Kupacu... tungganganku... tanpa henti, hingga... ia sekarat di gurun... Terpaksa... kutinggalkan... lalu aku berlari dari sana..”
”Demi Allah”, ujar Umar menenanginya dan memberinya minum,
“Mengapa kau susah payah kembali? Padahal kau bisa saja kabur dan menghilang?” tanya Umar.
”Akun kembali agar jangan sampai ada yang mengatakan... di kalangan Muslimin... tak ada lagi ksatria... menepati janji...” jawab si pemuda lusuh sambil tersenyum.
Mata Umar berkaca-kaca, sambil menahan haru, lalu ia bertanya :
“Lalu kau, Salman, mengapa mau- maunya kau menjamin orang yang baru saja kau kenal?"
Kemudian Salman menjawab :
" Agar jangan sampai dikatakan, dikalangan Muslimin, tidak ada lagi rasa saling percaya dan mau menanggung beban saudaranya”.
Hadirin mulai banyak yang menahan tangis haru dengan kejadian itu.
”Allahu Akbar!”, Tiba-tiba kedua pemuda penggugat berteriak.
“Saksikanlah wahai kaum Muslimin, bahwa kami telah memaafkan saudara kami itu”.
Semua orang tersentak kaget.
“Kalian...” ujar Umar.
“Apa maksudnya ini? Mengapa kalian..?” Umar semakin haru.
Kemudian dua pemuda menjawab dengan membahana :
”Agar jangan sampai dikatakan, di kalangan Muslimin tidak ada lagi orang yang mau memberi maaf dan sayang kepada saudaranya”.
”Allahu Akbar!” teriak hadirin.
Pecahlah tangis bahagia, haru dan sukacita oleh semua orang.
MasyaAllah..., saya bangga menjadi muslim bersama kita ksatria-ksatria muslim yang memuliakan al islam dengan berbagi pesan nasehatnya untuk berada dijalan-Nya..
Allahu Akbar…!

AJAL TAK PERNAH MENUNGGU TAUBAT KITA

AJAL TAK PERNAH MENUNGGU TAUBAT KITA

--------------------------------------
Ibnu Umar RA berkata: “Aku bersama Rasulullah SAW, lalu seorang lelaki Ansar datang kepada Baginda SAW mengucapkan salam lalu bertanya : Wahai Rasulullah. Manakah antara kaum mukminin yang paling utama? Baginda menjawab : Yang paling baik akhlaknya antara mereka. Dia bertanya lagi : Manakah di antara kaum mukminin yang paling cerdik?
“Baginda menjawab : Yang paling banyak mengingati kematian antara mereka dan paling bagus persiapannya selepas kematian. Mereka itu orang cerdik,”
(Hadis Riwayat Imam Ibnu Majah)
Sentiasa mengingati mati bukanlah mengabaikan setiap perkara di dunia tetapi sentiasa mengingati mati ialah menghindarkan diri dari tertipu dengan kenikmatan dunia yang serba sementara.
"Genggamlah dunia jangan biarkan dunia menggenggam diri mu. Kawallah nafsumu dan jangan biarkan nafsu mengawalmu."
Sentiasa mengingati mati dan sentiasa bersedia menghadapi mati bermaksud sentiasa membuat persiapan untuk ke alam kubur dan alam akhirat. Di akhirat kelak kita akan ditanya apakah yang telah kita lakukan di dunia. Bukankah kita diturunkan ke dunia untuk menjadi khalifah dan untuk memakmurkan bumi ALLAH SWT?
“Katakanlah (wahai Muhammad): “Sebenarnya maut yang kamu larikan diri daripadanya itu, tetap menemui kamu; kemudian kamu akan dikembalikan kepada ALLAH yang mengetahui segala yang ghaib dan yang nyata, lalu DIA memberitahu kepada kamu apa yang kamu telah lakukan (serta membalasnya).” (Surah Al-Jumu’ah : Ayat 8.)
Dan perlu diingat, memakmurkan bumi ALLAH SWT bukanlah bermaksud hidup di dunia dengan bersenang-lenang semata-mata tetapi bermaksud berusaha bersungguh-sungguh mengamalkan suruhan ALLAH SWT dan RasulNYA. Matlamat hidup manusia di dunia yang sebenar adalah mencari dan untuk mendapatkan redha ALLAH SWT, bukan untuk mencari kesenangan dunia yang semetara. Mencari redha ALLAH SWT dengan mengamalkan ajaran agama dan menyebarkannya.
Sungguh berbahagia orang yang sentiasa mengingati segala dosa yang telah dilakukan oleh dirinya sendiri demi sebuah perubahan diri menuju taubat nasuha.
Tetapi alangkah ngerinya apabila kita selalu menunda amal perbuatan baik dan taubat kerana merasakan usia masih muda dan merasakan akan hidup lama di dunia ini padahal maut akan menjemput pada bila-bila masa sahaja.
Firman ALLAH SWT : "Sesiapa yang tidak bertaubat, maka mereka itu adalah orang-orang yang zalim"
(Surah al-Hujurat : Ayat 11)
Orang yang bertaubat itu kekasih ALLAH, orang yang bertaubat daripada dosa adalah seperti orang yang tidak mempunyai dosa."
(HR Ibnu Majah & Ibnu Mas'ud)
Orang yang cerdik adalah orang yang sentiasa mengingati mati dan sentiasa bersedia menghadapinya.

Renungan

Renungan

ﺣﻜﻰ ﻋﻦ ﺍﻟﻔﻀﻴﻞ ﺑﻦ ﻋﻴﺎﺽ ﺭﺣﻤﻪ ﺍﻟﻠﻪ ﺗﻌﺎﻟﻰ ﺃﻧﻪ ﺣﻀﺮ ﺍﻟﻰ ﺗﻠﻤﻴﺬ ﻟﻪ ﺣﻀﺮﻩ ﺍﻟﻤﻮﺕ ﻓﺠﻌﻞ ﻳﻠﻘﻨﻪ ﺍﻟﺸﻬﺎﺩﺓ ﻭﻟﺴﺎﻧﻪ ﻻ ﻳﻨﻄﻖ

ﺑﻬﺎ ﻓﻜﺮﺭﻫﺎ ، ﻓﻘﺎﻝ ﻻ ﺍﻗﻮﻟﻬﺎ ﻭﺍﻧﺎ ﺑﺮﺉ ﻣﻨﻬﺎ ﺛﻢ ﻣﺎﺕ ، ﻭﺧﺮﺝ ﻓﻀﻴﻞ ﻣﻦ ﻋﻨﺪﻩ ﻭﻫﻮ ﻳﺒﻜﻰ ، ﺛﻢ ﺭﺁﻩ ﺑﻌﺪ ﻣﺪﺓ ﻓﻰ ﻣﻨﺎﻣﺔ ﻭﻫﻮ
ﻳﺴﺤﺐ ﺑﻪ ﺍﻟﻰ ﺍﻟﻨﺎﺭ ، ﻓﻘﺎﻝ ﻳﺎ ﻣﺴﻜﻴﻦ ﺑﻢ ﻧﺰﻋﺖ ﻣﻨﻚ ﺍﻟﻤﻌﺮﻓﺔ ؟
ﻓﻘﺎﻝ ﻳﺎ ﺍﺳﺘﺎﺫ ﻛﺎﻥ ﺑﻰ ﻋﻠﺔ ﻓﺄﺗﻴﺖ ﺑﻌﺾ ﺍﻷﻃﺒﺎﺀ ﻓﻘﺎﻝ ﺗﺸﺮﺏ ﻓﻰ ﻛﻞ ﺳﻨﺔ ﻗﺪﺣﺎ ﻣﻦ ﺍﻟﺨﻤﺮ ﻓﺈﻥ ﻟﻢ ﺗﻔﻌﻞ ﺗﺒﻖ ﺑﻚ ﻋﻠﺘﻚ ﻓﻜﻨﺖ
ﺃﺷﺮﺑﻬﺎ ﻓﻰ ﻛﻞ ﺳﻨﺔ ﻷﺟﻞ ﺍﻟﺘﺪﺍﻭﻯ ، ﻓﻬﺬﺍ ﺣﺎﻝ ﻣﻦ ﺷﺮﺑﻬﺎ ﻟﻠﺘﺪﺍﻭﻯ ، ﻓﻜﻴﻒ ﺣﺎﻝ ﻣﻦ ﺷﺮﺑﻬﺎ ﻟﻐﻴﺮ ﺫﻟﻚ؟
ﻧﺴﺄﻝ ﺍﻟﻠﻪ ﺍﻟﻌﺎﻓﻴﺔ ﻣﻦ ﻛﻞ ﺑﻼﺀ ﻭ ﻣﺤﻨﺔ
Diceritakan dari Fudlail bin Iyadl RA,
sesungguhnya beliau datang ke muridnya yg akan meninggal dunia,lalu menuntunnya
berkali-kali untuk mengucapkan Syahadat tapi
lisan murid tersebut tak mampu mengucapkan Syahadat
Lalu berucap,aku tak mampu
mengucapkannya dan saya lepas darinya,
kemudian murid tersebut meninggal,
lalu Fudlail menangis dan beranjak darinya
Disuatu hari Beliau melihat murid tersebut lewat mimpi bahwa ia diseret ke neraka
Lalu Fudlail bertanya, wahai miskin dengan sebab apa pengetahuanmu dicabut?
Murid menjawab, wahai ustadz,saya ini terserang penyakit,lalu saya berobat ke salah satu dokter kemudian ia memberi resep,
minumlah 1 gelas miras pada setiap tahun ,
jika kau tak meminumnya maka penyakitmu tak akan bisa sembuh
Lalu aku meminumnya setiap tahun hanya untuk berobat,, dan seperti inilah keadaan
bagi orang yg minum miras hanya untuk berobat,lalu apa yg terjadi bagi para peminum
yg tidak untuk berobat?
Marilah kita memohon pada Allah agar selamat dari semua cobaan
Amin
ﺇﺭﺷﺎﺩ ﺍﻟﻌﺒﺎﺩ ﺇﻟﻰ ﺳﺒﻴﻞ ﺍﻟﺮﺷﺎﺩ ﺹ ١٨٦

"NURUDDIN ZANKI DAN KISAH PENGGAGALAN PENCURIAN JASAD NABI"


Dalam buku 'Beberapa Bagian dari Sejarah Madinah' karya Ali Hafidh dikisahkan, suatu malam Sultan Nuruddin mimpi bertemu dengan Rasulullah Saw. Dalam mimpi itu Rasul memanggil-manggil Nuruddin dan menyuruhnya agar segera pergi ke Madinah, karena ada dua orang kulit putih yang hendak menyakiti beliau.
Bermimpi seperti itu, Sultan Nuruddin pun tersentak dan terbangun dari tidurnya. Betapa jelas kata-kata yang diucapkan Rasulullah Saw tadi. Ia pun segera mengambil air wudhu lalu shalat beberap rakaat. Lalu ia tidur kembali.
Dalam tidur keduanya, Sultan Nuruddin mendapatkan mimpi yang sama bahkan terasa lebih jelas. Mimpi itu terus berulang hingga tiga kali.
Keesokan harinya, Sultan Nuruddin menyampaikan mimpinya tersebut pada Jamaluddin Al-Muwashshali, seorang menteri yang berwawasan luas, alim dan rendah hati. Jamaluddin pun menyarankan agar Sultan segera pergi ke Madinah dan tidak menceritakan mimpinya pada siapapun.
Sesampainya di Madinah, ia segera shalat di Raudhah, lalu menziarahi pusara Rasulullah SAW. Sultan duduk termenung di depan pusara Rasul.
Segera setelah itu, ia memerintahkan agar seluruh penduduk Madinah berkumpul, terutama penduduk dan peziarah di sekitar Masjid Nabawi. Sultan membagi-bagikan hadiah pada setiap orang yang datang dengan harapan bisa bertemu dengan dua orang yang dilihatnya dalam mimpi.
Sayang, ia tidak bertemu dengan dua orang yang dicarinya tersebut. Maka berkatalah Sultan Nuruddin, "Apakah ada yang belum mendapat hadiah?". Mereka menjawab, "Tidak ada, kecuali dua orang dari Andalusia. Keduanya tidak mengambil sedikitpun, karena tengah khusyuk beribadah di Raudhah dekat makam Nabi". Saat ditanyakan bagaimana warna kulit kedua orang itu, maka dijawablah bahwa kulit mereka putih kemerahan.
Setelah dicari, kedua orang itu segera dihadapkan kepada Sultan Nuruddin untuk diinterogasi. Pada awalnya mereka mengaku sebagai peziarah Muslim dari Andalusia. Terlihat dari wajah mereka gurat-gurat ketakutan dan jawabannya pun berbelit-belit.
Untuk mendapatkan kebenaran jawaban, kedua orang tersebut di bawa ke balik dinding, lalu dibukalah celananya. Ternyata kedua orang itu tidak berkhitan! Setelah diinterogasi terus menerus, keduanya mengaku bahwa mereka adalah tentara Salib, yang diutus oleh raja mereka untuk mencuri jasad Rasulullah SAW (Dalam kisah lain disebutkan orang Yahudi).
Usaha untuk mencuri jasad Rasul, sudah mereka lakukan sejak lama dengan cara menggali terowongan di sebelah kiblat luar masjid. Setelah itu, keduanya dihukum mati dan mayatnya dibakar di luar Masjid Nabawi. Agar kejadian serupa tidak terulang kembali, Sultan Nuruddin memerintahkan untuk menggali tanah sekitar pusara dan menuangkan ke dalamnya cairan tembaga agar membeku, agar pusara Nabi SAW terlindungi.

Debat Abu Hanifah Dengan pendeta Yahudi

Debat Abu Hanifah Dengan pendeta Yahudi

“Pada suatu ketika, kota Baghdad kedatangan seorang pendakwah Yahudi bernama Dahri. Kedatangannya memicu kegemparan di kalangan umat Islam. Dahri mencoba merusak pegangan umat Islam dengan membahas soal-soal yang berhubungan dengan ketuhanan. Dicabarnya para ulama Baghdad untuk berdebat dengannya.
Setiap kali tantangannya disahut, argumen-argumen Dahri tidak pernah dapat dipatahkan sehingga akhirnya tidak ada lagi ulama Baghdad dan ulama-ulama disekitarnya yang sanggup berhadapan dengannya. Dari kejadiannya ini, tahulah Khalifah bahwa Baghdad sudah ketiadaan ulama yang benar-benar kredibel dan tinggi ketaqwaannya.
Lalu Khalifah memerintahkan beberapa orang menteri meninjau ke daerah lain, kalau-kalau masih ada ulama yang bisa dibawa menghadapi Dahri. Figur wakil Khalifah menemui Imam Hammad bin Abi Sulaimann Al-Asy ari, seorang ulama yang tidak kurang juga ketokohannya.
Khalifah memerintahkan hari perdebatan antara Imam Hammad dan Dahri disegerakan. Dan acara bersejarah itu harus dibuat di Masjid Jamek di tengah-tengah kota Baghdad. Sehari sebelum pertemuan itu lagi, Masjid Jamek telah penuh sesak dengan orang banyak. Masing-masng menaruh harapan agar Imam Hammad berhasil menumbangkan Dahri karena beliaulah satu-satunya ulama yang diharapkan.
“Subhanallah …. Subhanallah …. Walauhaulawala quwwata illa billahi aliyyil azim ….!” Lidah Imam Hammad terus melafalkan kalimat mensucikan segala tohmahan yang tidak layak untuk Zat yang Maha Agung. Dia beristighfar terus. Rasanya dah tidak sanggup telinganya menadah bermacam tohmahan yang dilemparkan oleh Dahri yang biadab dan matarialis itu. Mempertikaikan keesaan Allah SWT buukanlah hal kecil dalam Islam. Ini kasus berat! Hatinya cukup pedih. Roh ketauhidannya bergelora. Mau rasanya dipenngal leher si Dahri yang angkuh itu di depan ribuan mata yanng turut hadir dalam acara iru.
Keesokannya, pagi-pagi lagi muncul Abu Hanifah, murid Imam Hammad yang paling dekat dan paling disayanginya. Namanya yang sebenarnya adalah Nu ‘man, yang ketika itu usiannya masih remaja. Bila melihat kondisi gurunya itu, Abu Hanifah pun bertanya untuk mendapat kepastian. Lalu Imam Hammad menceritakan keadaan yang sebenarnya. Dalam pada itu teringat Hammad akan mimpinya malam tadi, lalu dikabarkan kepada muridnya itu. Abu Hanifah mendengarnya dengan penuh khusyuk.
“… Aku bermimpi ada sebuah dusun yang amat luas lagi indah. Di sana kulihat ada sepohon kayu yand rendanng dan lebat buahnya. Tiba-tiba, di situ keluar seekor babi dari ujung desa. Lalu habis dimakannya buah yang masak ranum dari pohon itu. Hingga ke daun dan dahan-dahannya habis ditutuh.Yang tinggal cuma batangnya sahaja.Dalam pada itu juga keluar seekor harimau dari umbi pohon rindang tadi lalu menerkam babi itu dengan gigi dan kukunya yang tajam.Lalu, babi tadi mati disitu juga . “
Hammad termenung seketika. Kekalutan pikiran yang telah dicetuskan Dahri, yang bisa menggeser pegangan aqidah umat ini, tidak bisa di biarkan. Harus dihapus segera. Wajahnya yang tenang bagai air sungai yang mengalir jernih, masih nampak bercahaya walau di saat begitu genting. Satu kelebihan Abu Hanifah adalah beliau juga dikaruniai Allah ilmu menta’bir mimpi, sebagai mana nabi Allah Yusuf. Pada pengamatannya juga, mimpi tersebut akan memberi pertanda baik bahwa si Dahri pasti akan menerima akibatnya nanti. Dan setelah mendapat izin gurunya, dia pun mencoba mentafsirnya:
“Apa yang tuan lihat dalam mimpi tuan sebagai dusun yang luas lagi indah itu adalah tamsilan kepada agama Islam kita. Pokok yang berbuah lebat itu adalah tamsilan kepada sekalian ulamannya. Sedangkan sepohon kayu yang masih tinggal itu adalah tuan sendiri. Dan babi yang tiba-tiba muncul dan merusak pohon tersebut adalah si Dahri. Sedangkan harimau yang keluar lalu membunuh babi tadi … adalah saya … “jelas Abu Hanifah.
Ia juga meminta izin untuk membantu gurunya menghadapi si Dahri. Betapa gembiranya hati Iman Hammad bila aksi hasrat itu dari hati muridnya sendiri. Maka berngkatlah ilmuwan budak itu bersama gurunya untuk pergi ke Masjid Jamek di mana acara dialog akan diadakan yang dihadiri oleh orang banyak dan Khalifah. Seperti biasanya, sebelum menyampaikan dakyahnya, Dahri akan menantang dan memperleceh-lecehkan ulama dengan bersuara lantang dari atas pentas.
“Hai Dahri, apalah yang digusarkan. Orang yang mengetahuinya pasti menjawabnya!” Tiba-tiba suara Abu Hanifah mengejutkan Dahri dan menyentakkan kaum Muslimin yang hadir. Dahri sendiri terkejut. Matanya memandang tajam mata Abu Hanifah.
“Siapa kamu hai anak muda? Berani sungguh menyahut cabaranku … Sedangkan ulama yang hebat-hebat, yang berserban dan berjubah labuh telah ku kalahkan …!” Volume suara Dahri membidas Abu Hanifah.
“Wahai Dahri,” balas Abu Hanifah, “sesungguhnya Allah tidak melimpahkan kemuliaaan dan kebesaran itu pada sorban atau jubah yang labuh. Tetapi Allah menganugerahkan kemuliaan kepada orang-orang yang berilmu dan bertaqwa.” Abu Hanifah lalu membacakan sebuah firman Allah SWT yang artinya:
“Allah telah meninggikan derajat orang beriman dan berimul antara kamu beberapa derajat.” (Al-Mujadalah: 11)
Geram rasanya hati Dahri mendengarnya kepetahan lidah pemuda ini mendebat. Maka berlangsunglah acara dialog.perdebatan antara Abu Hanifah dengan tokoh Ad-dahriayyah, yang terkenal dengan pemikiran materialisdan ateisnya itu, bertahan dengan mendebarkan.
“Benarkah Allah itu ada?,” Soal Dahri memulai acara dialog.
“Bahkan Allah memang ada,” tegas Abu Hanifah.
“Kalau Allah maujud (ada), di mana tempatnya ..??” Suara Dahri semakin meninggi.
“Allah tetap ada tetapi dia tidak bertempat!” jelas Abu Hanifah.
“Heran, kau kata Allah itu ada, tetapi tidak bertempat pula …?” bantah Dahri sambil melemparkan senyuman sinisnya kepada hadirin.
“Ah, itu senang saja wahai Dahri. Coba kau lihat pada dirimu sendiri. Bukankah pada dirimu itu ada nyawa …” Abu Hanifah mulai mendebat. Orang-orang mulai memperhatikan gaya ilmuwan muda ini berpidato dengan penuh minat.
“Bahkan, memang aku ada nyawa, dan memang setiap makhluk yang bernafas itu ada nyawa …!” sahut Dahri.
“Tetapi apakah kau tahu di mana letaknya nyawa atau rohmu itu …? Dikepalakah, diperutkah atau apakah dihujung situs kakimu ..?” Terserentak Dahri seketika. Orang-orang mulai berbisik-bisik di antara mereka. Setelah itu Abu Hanifah mengambil pula segelas susu lalu ditampilkan pada Dahri, seraya berkata: “Apakah dalam air susu ini ada terkandung lemak …?”
Cepat Dahri menjawab, “Ya, bahkan!”
Abu Hanifah bertanya lagi, “Kalau begitu dimanakah lemak itu berada …? Di bagian atasnyakah atau dibawahkah …?” Sekali lagi Dahri terserentak, tidak mampu menjawab pertanyaan Abu Hanifah yang sopan itu. “Untuk mencari dimanakah beradanya roh dalam jasad dan tersisip dimanakah konten lemak dalam air susu ini pun kita tidak upaya, masakan pula kita dapat menjangkau dimanakah beradanya Zat Allah SWT di alam maya ini? Zat yang telah menciptakan dan mengatur seluruh alam ini termasuk roh dan akal dangkal kita ini, pun ciptaan-Nya, yang tunduk dan patuh di bawah urusan tadbir pemerintah-Nya Yang Maha Agung …! ” Suasana menjadi agak bingar. Dahri terpaku di kursi. Terbungkam lidahnya. Merah mukanya. Kesabarannya mulai terburai. Bila kondisi agak reda, Dahri membentangkan pertanyaan.
“Hai anak muda! Apakah yang ada sebelum Allah. Dan apa pula yang muncul setelah Dia nanti …” Semua mata tertuju pada Abu Hanifah, murid Imam Hammad yang pintar ini.
“Wahai Dahri! Tidak ada suatu pun yang ada sebelum Allah Taala dan tidak ada sesuatu pun yang akan muncul setelah-Nya. Allah SWT tetap Qadim dan Azali. Dialah yanng Awal dan Dialah yang Akhir”, tegas Abu Hanifah, singkat tapi padat.
“Pelik sungguh! Mana mungkin begitu …. Tuhan Wujud tanpa ada permulaan Nya? Dan mana mungkin Dia pula yang terakhir tanpa ada lagi yang setelah Nya ….?” Dahri mencoba berdalih dengan pikiran logika.
Dengan tersenyum Abu Hanifah menjelaskan, “Ya! Dalilnya ada pada diri kamu sendiri. Coba kau lihat pada ibu jari mu itu. Jari apakah yang kau nampak berada sebelum jari ini ..?” Sambil menuding ibu jarinya ke langit. Dan beberapa hadirin juga melakukan hal. “Dan pada jari manis kau itu, ada lagikah jari yang berikutnya …” Dahri membalik-balik jarinya. Tidak berpikir dia persoalan yang sekecil itu yang diambil oleh Abu Hanifah. “Jadi …! Kalaulah pada jari kita yang kecil ini pun, tidak mampu kita pikir, apalagi Allah Zat Yang Maha Agung itu, yang tidak satu pun yang mendahului-Nya dan tiada sesuatu yang kemudian setelah-Nya.”
Sekali lagi Dahri tercenggang. Bungkam. Namun masih tidak berputus asa untuk mematahkan argumen anak muda yang telah memalukannya di muka umum. Khalifah kagum melihatnya gelagat Dahri dengan penuh tanda tanya. Dahri berpikir seketika, menemukan jalan, mencari ide. Seperti suatu ilham baru telah menyuntik mindanya, iapun tersenyum. Hati Dahri bergelodak bagai air tengah mendidih.
“Ini pertanyaan yang terakhir buat mu, hai .. budak mentah!” Sengaja Dahri mengeraskan suaranya agar rasa malunya itu terperosok.
“Allah itu ada, kata mu. Ha! Apakah pekerjaan Tuhan mu saat ini?” Pertanyaan tersebut membuat Abu Hanifah tersenyum riang.
“Ini pertanyaan yang sungguh menarik. Jadi kenalah terjawab dari tempat yang tinggi agar dapat didengar oleh semua orang,” katanya. Pemuda ideologi Ad-Dahriyyun yang sedari tadi mentalitinya ditantang terus, berjalan turun meninggalkan mimbar masjid Jamek, memberi tempat untuk Abu Hanifah:
“Wahai sekelian manusia. Ketahuilah bahwa kerja Allah ketika ini adalah menggugurkan yang bathil sebagaimana Dahri yang berada di atas mimbar, diturunkan Allah ke bawah mimbar. Dan Allah juga telah menaikkan yang hak sebagaimana aku, yang berada di sana, telah dinaikkan ke atas mimbar Masjid Jamek ini …! “
Bagai halilintar, argumen Abu Hanifah menerjang ke dua-dua pipi Dahri. Seiring dengan itu bergemalah pekikan takbir dari massa. Mereka memuji-muji kewibawaan Abu Hanifah yang telah berhasil menyelamatkan martabat Islam dari lidah Dahri yang sesat lagi menyesatkan itu. Sampai saat ini, nama Imam Abu Hanifah terus dikenal keserata dunia sebagai seorang Fuqaha dan salah seorang dari Imam Mujtahid Mutlak yang empat. Kemunculan Mazhab Hanafi dalam fiqh Syar’iyyah, juga mengambil sempena nama ulama ini.

RAHASIA SENYUM NABI MUHAMMAD SAW


Ketika Anda membuka lembaran sirah kehidupan Nabi Muhammad saw., Anda tidak akan pernah berhenti kagum melihat kemuliaan dan kebesaran pribadi beliau Saw.
Nabi Muhammad Saw adalah manusia yang paling banyak tersenyum beliau Saw telah meluluhkan hati siapa saja dengan senyuman. Beliau Saw mampu “menyihir” hati dengan senyuman. Beliau Saw menumbuhkan harapan dengan senyuman. Beliau Saw mampu menghilangkan sikap keras hati dengan senyuman. Dan beliau Saw. mensunnahkan dan memerintahkan umatnya agar menghiasi diri dengan akhlak mulia ini. Bahkan beliau Saw menjadikan senyuman sebagai lahan berlomba dalam kebaikan.
Diriwayatkan dari Jabir dalam sahih Bukhari dan Muslim, berkata,
“Sejak aku masuk Islam, Rasulullah saw tidak pernah menghindar dariku. Dan beliau tidak melihatku kecuali beliau pasti tersenyum kepadaku.”
Suatu ketika Nabi Muhammad saw. didatangi seorang Arab Badui, dengan serta merta ia berlaku kasar dengan menarik selendang Nabi Muhammad saw., sehingga leher beliau Saw membekas merah. Orang Badui itu bersuara keras, “Wahai Muhammad, perintahkan sahabatmu memberikan harta dari Baitul Maal! Muhammad saw. menoleh kepadanya seraya tersenyum. Kemudian beliau menyuruh sahabatnya memberi harta dari baitul maal kepadanya.”
Ketika beliau memberi hukuman keras terhadap orang-orang yang terlambat dan tidak ikut serta dalam perang Tabuk, beliau masih tersenyum mendengarkan alasan mereka.
Ka’ab ra. berkata setelah mengungkapkan alasan orang-orang munafik dan sumpah palsu mereka:
“Saya mendatangi Muhammad saw., ketika saya mengucapkan salam kepadanya, beliau tersenyum, senyuman orang yang marah. Kemudian beliau Saw berkata, “Kemari. Maka saya mendekati beliau dan duduk di depan beliau.” }.
Suatu ketika Nabi Muhammad saw. melintasi masjid yang di dalamnya ada beberapa sahabat yang sedang membicarakan masalah-masalah jahiliyah terdahulu, beliau Saw lewat dan tersenyum kepada mereka.
Beliau Saw tersenyum dari bibir yang lembut, mulia nan suci, sampai akhir detik-detik hayat beliau Saw.
Anas bin Malik berkata diriwayatkan dalam sahih Bukhari dan Muslim,
“Ketika kaum muslimin berada dalam shalat fajar, di hari Senin, sedangkan Abu Bakar menjadi imam mereka, ketika itu mereka dikejutkan oleh Muhammad saw. yang membuka hijab kamar Aisyah. Beliau Saw melihat kaum muslimin sedang dalam shaf shalat, kemudian beliau tersenyum kepada mereka!”
Sehingga tidak mengherankan beliau Saw mampu meluluhkan kalbu sahabat-shabatnya, istri-istrinya dan setiap orang yang berjumpa dengannya Saw.
“Senyummu di depan saudaramu adalah sedekah.” }.
At Tirmidzi dalam sahihnya.
Meskipun sudah sangat jelas dan gamblang petunjuk Nabi Saw dan praktek beliau Saw langsung ini, namun Anda masih banyak melihat sebagaian manusia masih berlaku keras terhadap anggota keluarganya, tehadap rumah tangganya dengan tidak menebar senyuman dari bibirnya dan dari ketulusan hatinya.
Anda merasakan bahwa sebagian manusia -karena bersikap cemberut dan muka masam- mengira bahwa giginya bagian dari aurat yang harus ditutupi! Di mana mereka di depan petunjuk Nabi yang agung ini!

ALLAH MENILAI USAHANYA, BUKAN HASILNYA


Di saat Nabi Ibrahim dibakar oleh Raja Namrud (kaumnya),
seekor burung kecil terbang berulang kali mengisi air dalam paruhnya lalu menyiramkan ke atas api yang membara, berulang kali burung itu melakukan.
Tingkah lakunya diperhatikan oleh makhluk Allah yang lain lalu bertanya kpd burung kecil itu,...."buat apa kau capek-capek mengambil air sedangkan api yang membakar Nabi Ibrahim takkan mungkin padam dgn air yang kau siramkan itu..?
Lalu dijawab oleh burung kecil itu,...."Memang aku tidak akan bisa memadamkan api membara itu. Akan tetapi aku lebih takut kepada Allah karna Allah kelak akan bertanya tentang apa yang aku lakukan untuk agama Allah...??? Dan Allah tidak akan bertanya apakah aku berhasil memadamkan api ataupun tidak.
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا إِنْ تَنْصُرُوا اللَّهَ يَنْصُرْكُمْ وَيُثَبِّتْ أَقْدَامَكُمْ
Hai orang-orang mukmin, jika kamu menolong (agama) Allah, niscaya Dia akan menolongmu dan meneguhkan kedudukanmu.
Mari kita berjuang dan berkorban semampu kita dgn apa yg kita miliki dan mampu utk AGAMA ALLaH...SWT.. Jangan kalah sama seekor BURUNG...
X-Steel - Wait